Wajib Tahu, Berikut Mitos dan Fakta Virus Corona Yang Sering Beredar

Mitos Fakta Virus Corona

Meski jumlah penyebaran kasusnya di beberapa negara sudah menurun, namun jumlah orang terjangkit corona masih terus meningkat setiap harinya. Hal ini bisa disebabkan karena banyaknya masyarakat di Indonesia yang kurang disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah maupun WHO, serta masih banyaknya mitos beredar di masyarakat mengenai virus corona yang tidak sesuai dengan fakta yang ada sama sekali.

Mitos dan Fakta Mengenai Corona Yang Masih Sering Beredar

1. Corona Bisa Mati Dengan Menyemprot Alkohol Ke Seluruh Tubuh

Pada awal munculnya pandemi ini, semua orang seakan-akan wajib dan diharuskan untuk menyemprotkan desinfektan dengan kandungan alkohol ke seluruh tubuh untuk menghalau corona. Bahkan, tidak sedikit kompleks-kompleks perumahan yang memberlakukan aturan untuk setiap warga yang memasuki wilayah perumahan harus melalui pos penjagaan untuk dilakukan pengecekan suhu, pemberian hand sanitizer, dan juga penyemprotan disinfektan ke seluruh tubuh.

Mitos dan Fakta Virus Corona

Tak heran, dalam satu hari orang-orang bisa melalui banyak pos penjagaan dan keharusan untuk disemprot dengan cairan desinfektan yang dipercaya berguna untuk membunuh corona. Padahal dalam faktanya, menyemprotkan alkohol ke seluruh tubuh harus dilakukan dengan rekomendasi dan kadar penyemprotan yang tepat. Karena, alkohol mengandung zat yang bisa membahayakan kulit, pakaian dan juga organ tubuh yang memiliki selaput lendir seperti mata dan mulut.

2. Untuk Mencegah Corona, Perbanyak Konsumsi Antibiotik

Imun tubuh yang rendah akan mempermudah masuknya bakteri kedalam tubuh. Hal ini dikarenakan imun tubuh sebagai garda terdepan untuk memerangi bakteri maupun zat asing lain yang masuk kedalam tubuh, tidak berfungsi dengan baik. Sehingga, tubuh menjadi lebih rentan terkena penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut biasanya orang-orang akan mengkonsumsi antibiotik yang dipercaya bisa meningkatkan imun tubuh, termasuk menghalau corona.

Namun ternyata, antibiotik tidak bekerja efektif dalam melawan corona, melainkan hanya efektif untuk melawan bakteri yang masuk dalam tubuh manusia. Sedangkan, corona merupakan sebuah virus. Dengan begitu, mengkonsumsi antibiotik tidak dapat dijadikan sebagai salah satu langkah pencegahan atau pengobatan covid. Sedangkan penggunaan antibiotik pada pasien corona di rumah sakit, berfungsi sebagai pencegahan koinfeksi bakteri.

3. Corona Tidak Tahan Panas

Salah satu mitos yang masih sering beredar di masyarakat lainnya, adalah corona tidak tahan dengan negara yang memiliki iklim panas dan kelembaban yang tinggi. Jadi jika sesuai dengan mitos yang beredar, harusnya wabah ini tidak akan bisa hidup dan bertahan lama di Indonesia yang notabene memiliki iklim cuaca panas. Namun hingga menginjak akhir tahun 2020 di Indonesia sendiri, kasus orang terjangkit corona masih belum berkurang dan cenderung meningkat.

Mitos dan Fakta Virus

Dengan begitu, kabar bahwa corona tidak tahan dengan cuaca panas adalah sebuah mitos yang tidak berdasar. Karena pada fakta yang ada covid nyatanya dapat menjangkit negara manapun, dapat menular di semua wilayah tidak bergantung dengan keadaan cuaca maupun iklim di negara yang bersangkutan. Karena covid hanya dapat hilang dengan pengobatan yang tepat, bukan dengan suhu dan cuaca yang panas, ataupun iklim udara yang terlalu lembab.

Corona memang menjadi salah satu wabah yang berbahaya, karena dapat menjangkit siapapun dengan gejala yang tidak terlihat. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pasti pandemi akan berakhir ataupun obat yang sudah terpercaya dapat mengobati corona. Untuk itu, ada baiknya agar tetap menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga teratur dan istirahat cukup agar daya imun dalam tubuh dapat terus terjaga serta tidak mempercayai mitos yang beredar sebelum melakukan kroscek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *